Rabu, 08 Mei 2013

Solusio Plasenta dan contoh askeb


DASAR TEORI

SOLUSIO PLASENTA
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari tempat melekatnya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. (Winkjosastro,2002)
Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu. (Mochtar,1998)
 Menurut Manuaba,1998. Batasan solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya dengan implantasi normal pada kehamilan trimester III. 

Angka kejadian 1 : 80 persalinan ; Solusio plasenta berat angka kejadian = 1 : 500 – 750 persalinan


Terdapat 2 jenis perdarahan yang terjadi :
  1. Jenis perdarahan tersembunyi (concealed) : 20%
  2. Jenis perdarahan keluar (revealed) : 80%
Pada jenis tersembunyi, perdarahan terperangkap dalam cavum uteri [hematoma retroplasenta] dan seluruh bagian plasenta dapat terlepas, komplikasi yang diakibatkan biasanya sangat berat dan 10% disertai dengan Disseminated Intravascular Coagulation.
Pada jenis terbuka, darah keluar dari ostium uteri, umumnya hanya sebagian dari plasenta yang terlepas dan komplikasi yang diakibatkan umumnya tidak berat.
Kadang-kadang, plasenta tidak lepas semua namun darah yang keluar terperangkap dibalik selaput ketuban (relativelly concealed) 30% perdarahan antepartum disebabkan oleh solusio plasenta.

ETIOLOGI
Penyebab utama tidak jelas.
Terdapat beberapa faktor resiko antara lain
  • Peningkatan usia dan paritas
  • Preeklampsia
  • Hipertensi kronis
  • KPD preterm
  • Kehamilan kembar
  • Hidramnion
  • Merokok
  • Pencandu alkohol
  • Trombofilia
  • Pengguna cocain
  • Riwayat solusio plasenta
  • Mioma uteri
Faktor pencetus :
  1. Versi luar atau versi dalam
  2. Kecelakaan
  3. Trauma abdomen
  4. Amniotomi ( dekompresi mendadak )
  5. Lilitan talipusat - Tali pusat pendek
PATOFISIOLOGI
Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium.
Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma desidua yang terjadi.
Pada awalnya kejadian ini tak memberikan gejala apapun. Namun beberapa saat kemudian, arteri spiralis desidua pecah sehingga menyebabkan terjadinya hematoma retroplasenta yang menjadi semakin bertambah luas. Daerah plasenta yang terkelupas menjadi semakin luas sampai mendekati tepi plasenta.
Oleh karena didalam uterus masih terdapat produk konsepsi maka uterus tak mampu berkontraksi untuk menekan pembuluh yang pecah tersebut. Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus maka terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage)

Perdarahan tersembunyi ( concealed hemorrhage)
  1. Terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh
  2. Plasenta dapat terlepas secara keseluruhan sementara selaput ketuban masih menempel dengan baik pada dinding uterus
  3. Darah dapat mencapai cavum uteri bila terdapat robekan selaput ketuban
  4. Kepala janin umumnya sangat menekan SBR sehingga darah sulit keluar
  5. Bekuan darah dapat masuk kedalam miometrium sehingga menyebabkan uterus couvellair
image
Hematoma Retroplasenta yang terlihat pasca persalinan

GAMBARAN KLINIK
A.    GEJALA dan TANDA
Gejala klinik tergantung pada luas plasenta yang terlepas dan jenis pelepasan plasenta (concealed atau revealed) 30% kasus, daerah yang terlepas tidak terlalu besar dan tidak memberikasn gejala dan diagnosa ditegakkan secara retrospektif setelah anak lahir dengan terlihatnya hematoma retroplasenta
Bila lepasnya plasenta mengenai daerah luas, terjadi nyeri abdomen dan uterus yang tegang disertai dengan :
  • Gawat janin (50% penderita)
  • Janin mati ( 15%)
  • Tetania uteri
  • DIC- Disseminated Intravascular Coagulation
  • Renjatan hipovolemik
  • Perdarahan pervaginam ( 80% penderita)
  • Uterus yang tegang (2/3 penderita)
  • Kontraksi uterus abnormal (1/3 penderita
Bila separasi plasenta terjadi dibagian tepi, iritabilitas uterus minimal, dan tidak terdapat tanda-tanda uterus tegang atau gawat janin. Perdarahan yang terjadi biasanya tidak terlampau banyak ( 50 – 150 cc) dan berwarna kehitaman.

B.     LABORATORIUM
Kadar haemoglobin [Hb] atau hematokrit [Ht] sangat bervariasi. Penurunan Hb dan Ht umumnya terjadi setelah terjadi hemodilusi.
Hapusan darah tepi menunjukkan penurunan trombosit, adanya schistosit menunjukkan sudah terjadinya proses koagulasi intravaskular. Penurunan kadar fibrinogen dan pelepasan hasil degradasi fibrinogen. Bila pengukuran fibrinogen tak dapat segera dilakukan, lakukan pemeriksaan “clott observation test”. Sample darah vena ditempatkan dalam tabung dan dilihat proses pembentukan bekuan (clot) dan lisis bekuan yang terjadi. Bila pembentukan clot berlangsung > 5 – 10 menit atau bekuan darah segera mencair saat tabung dikocok maka hal tersebut menunjukkan adanya penurunan kadar fibrinogen dan trombosit.

Pemeriksaan laboratorium khusus :
  • Prothrombine time
  • Partial thromboplastine time
  • Jumlah trombosit
  • Kadar fibrinogen
  • Kadar fibrinogen degradation product
Pemeriksaan ultrasonografi tak memberikan banyak manfaat oleh karena pada sebagian besar kasus tak mampu memperlihatkan adanya hematoma retroplasenta

PENATALAKSANAAN
A. Tindakan gawat darurat
Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang manifestasinya adalah :
  • Perdarahan bertambah banyak
  • Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
  • Gawat janin
maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi.

B.  TERAPI EKSPEKTATIF
Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif.

C. PERSALINAN PERVAGINAM
Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.
Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk :
  1. Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC)
  2. Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik)
Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan.

D. SEKSIO SESAR
Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan atau anak Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat, misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm.  Atas indikasi ibu maka janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan seksio sesar pada kasus solusio plasenta.

KOMPLIKASI
1. Koagulopati konsumtif
Koagulopati konsumtif dalam bidang obstetri terutama disebabkan oleh solusio plasenta. Hipofibrinogenemia ( < 150 mg/dL plasma) yang disertai dengan peningkatan kadar FDP dan penurunan berbagai faktor pembekuan darah terjadi pada 30% penderita solusioplasenta berat yang disertai dengan kematian janin.
Mekanisme utama dalam kejadian ini adalah terjadinya koagulasi intravaskular akibat masuknya “tromboplastin” yang berasal dari uterus kedalam darah dan sebagian kecil merupakan akibat dari pembekuan darah retroplasenta.
Akibat penting dari terjadinya koagulasi intravaskular adalah aktivasi plasminogen menjadi plasmin yang diperlukan untuk melakukan lisis mikroemboli dalam mekanisme untuk menjaga keutuhan mikrosirkulasi.
Hipofibrinogenemia berat tidak selalu bersamaan dengan trombositopenia, trombositopenia umumnya baru terjadi setelah tranfusi darah yang berulang.
Hipofibrinogenemia jarang terjadi pada keadaan dimana solusio plasenta tidak disertai dengan kematian janin intra uterin.

2. Gagal ginjal
Gagal ginjal akut sering terlihat pada solusio plasenta berat dan sering disebabkan oleh penanganan renjatan hipovolemia yang terlambat atau kurang memadai. Drakeley dkk (2002) menunjukkan bahwa penelitian terhadap 72 orang wanita dengan gagal ginjal akut, 32 kasus disebabkan oleh solusio plasenta
Gangguan perfusi renal yang berat disebabkan oleh perdarahan pasif. 75% kasus gagal ginjal akut akibat nekrosis tubuler akut bersifat tidak permanen Lindheimer dkk (2000) nekrosis kortikal akut dalam kehamilan selalu disebabkan oleh solsuio plasenta

3. Uterus couvelaire
Ekstravasasi darah kedalam miometrium menyebabkan apopleksia uterus yang disebut sebagai uterus couvelair.
Ekstravasasi dapat terlihat pada pangkal tuba, ligamentum latum atau ovarium. Jarang menyebabkan gangguan kontraksi uterus, jadi bukan merupakan indikasi untuk melakukan histerektomi

PROGNOSIS
Mortalitas maternal 0.5 – 5% dan sebagian besar disebabkan gagal ginjal atau gagal kardiovaskular. Pada solusio plasenta berat, mortalitas janin mencapai 50 – 80% Janin yang dilahirkan memiliki morbiditas tinggi yang disebabkan oleh hipoksia intra uterin, trauma persalinan dan akibat prematuritas.



ASUHAN  KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI
PADA NY Y G1P0Ab0 UMUR 21 TAHUN UK 37+1 MINGGU
DI BPS DWI MARYATI,S.ST
NGILIPAR GUNUNG KIDUL

No. Register                            : 045 / BPS/ BUMIL
Masuk RS tanggal/jam            : 31 Januari 2013
Dirawat diruang                      : -

I.     PENGKAJIAN DATA, Tanggal/Pukul : 31 Januari 2013/pukul 15.00 Oleh : Bidan
A.       Biodata              Ibu                                           Suami
1.    Nama              : Ny. Y                                  Tn. P
2.    Umur              : 21 tahun                              25 tahun
3.    Agama            : Islam                                    Islam
4.    Suku/Bangsa   : Jawa/Indonesia                    Jawa/Indonesia
5.    Pendidikan     : SMU                                    SMU
6.    Pekerjaan        : IRT                                      Buruh
7.    Alamat            : Kwaru RT 1/RW 3             Kwaru RT 1/RW 3
                             Gunung Kidul                       Gunung Kidul

B.       DATA SUBYEKTIF
1.    Alasan kunjungan
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilanya

2.    Keluhan utama
Ibu mengatakan rasa nyeri saat dipegang pada perut bagian atas

3.    Riwayat mensturasi
Menarce        : 14 tahun                    Siklus  : 28 hari
Lama             : 7 hari                         Teratur : teratur
Sifat darah    : cair                            Keluhan : tidak ada
4.    Riwayat perkawinan
Status perkawinan    : sah                 Menikah ke : 1
Lama                         : 1 tahun          Usia menikah pertama : 20 tahun

5.    Riwayat obstetrik
Hamil ke
Persalinan
Nifas
Tgl
UK
jns prsalinan
penolong
kompl
JK
BB
Laktasi
kompl
1
Hamil ini








6.    Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No
Jenis kontrasepsi
Pasang
Lepas
tanggal
Oleh
tempat
keluhan
Tanggal
oleh
tempat
alasan
1
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi











7.    Riwayat kehamilan sekarang
a.    HPM        : 6-5-2012                    HPL : 13-2-2013
b.   ANC pertama umur kehamilan    : 4 minggu
c.    Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi : 2x, Tempat :bidan , Oleh : bidan
Keluhan    : tidak ada
Terapi       : vitonal f 1x1/hari, vit C 1x1/hari
Trimester II
Frekuensi : 3x, Tempat : bidan , Oleh : bidan
Keluhan    : tidak ada
Terapi       : vitonal f 1x1/ hari, vit C 1x1/ hari
Trimester III
Frekuensi  : 1x, Tempat : bidan,Oleh : bidan
Keluhan    : rasa nyeri saat perut dipegang bagian atas
Terapi       :

d.   Imunisasi TT
TT I : 20-5-2006
TT II: 20-6-2006                   TT III : 23-9-2012      

e.    Pergeraakan janin selama 24 jam (dalam sehari )
Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin 2x/ jam dalam sehari

8.    Riwayat kesehatan
a.    Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular,  menurun dan menahun)
ibu mengatakan tidak pernah / tidak sedang menderita penyakit menular (TBC,hepatitis,HIV) penyakit menurun(hipertensi, asma) dan penyakit menahun (jantung, paru-paru).

b.   Penyakit yang pernah/sedanng diderita keluarga (menular, menurun dan menahun)
ibu mengatakakan keluarga tidak pernah / tidak sedang menderita penyakit menular(TBC,hepatitis,HIV) penyakit menurun(hipertensi, asma) dan penyakit menahun (jantung, paru-paru).

c.    Riwayat keturunan kembar
ibu mengatakan tidak ada riwayat keturan kembar

d.   Riwayat operasi
ibu mengatakan belum pernah operasi


e.    Riwayat alergi obat
ibu mengatakan tidak ada riwayat alergi obat

9.    Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a.    Pola nutrisi sebelum hamil                       saat hamil
Makan     
Frekuensi : 3x/ hari                                  3x/ hari
Porsi         : 1 piring                                  1 piring
Jenis         : nasi, lauk, sayur                     nasi,sayur, lauk
Pantangan            : tidak ada                   tidak ada
Keluhan    : tidak ada                               tidak ada

Minum
Frekuensi : 10x/ hari                                12x/ hari
Porsi         : 1 gelas                                   1 gelas
Jenis         : air putih, susu, teh                 nasi,sayur, lauk
Pantangan            : tidak ada                   tidak ada
Keluhan    : tidak ada                               tidak ada
    
b.    Pola eliminasi
BAB                      
Frekuensi              : 1x/ hari                      1x/hari
Konsistensi           :  lembek                      lembek
Warna                   :  kuning                      kuning
Keluhan                :  tidak ada                  tidak ada
BAK                   
Frekuensi              : 5x/ hari                      9x/hari
Konsistensi           :  cair                           cair
Warna                   :  kuning jernih            kuning jernih
Keluhan                :  tidak ada                  tidak ada

c.    Pola istirahat
Tidur siang
Lama                    : 2 jam / hari                2 jam / hari
Keluhan                : tidak ada                   tidak ada
Tidur malam        
Lama                    : 8 jam / hari                8 jam / hari
Keluhan                : tidak ada                   tidak ada

d.   Personal hygiene
Mandi                   : 2x/ hari                      2x/ hari
Ganti pakaian       : 2x/ hari                      2x/ hari
Gosok gigi            : 2x/ hari                      2x/ hari
Keramas               : 4x/ minggu                4x/ minggu

e.    Pola sexsualitas
Frekuensi              : 4x/ minggu                1x/ minggu
Keluhan                : tidak ada                   tidak ada

f.     Pola aktifitas (terkait kegiatan fisik, olah raga)
ibu mengatakan selalu mengkuti kegiatan senam hamil dan jalan jalan pagi

10.  Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman berakohol)
-ibu mengatakan tidak pernah melakukan kebiasaan yang mengganggu kesehatan seperti merokok, minum jamu, minuman berakohol

11.  Pisikososiospiritual (penerimaan ibu/suami/keluarga terhadap kehamilan, dukungan sosial, perencanaan persalinan, pemberian ASI, perawatan bayi, kegiataan ibadah, kegiataan sosial, dan persiapan keuangan ibu dan keluarga)
a.      Ibu mengatakan suami dan keluarga sangat senang dengan kehamilanya
b.      Ibu mengatakan mendapatkan dukungan sosial dari masyarakat
c.       Ibu mengatakan sudah merencanakan persalinan di RB
d.      Ibu mengatakan akan memberikan ASI esklusif pada bayinya
e.       Ibu mengatakan ingin merawatbayinya sendiri dengan keluarga
f.       Ibu  mengatakan rajin beribadah
g.      Ibu mengatakan selalu mengikuti kegiatan sosial
h.      Ibu mengatakan sudah menyiapkan keuanganya untuk bersalin

12.  Pengetahuan ibu  ( tentang kehamilan, persalinan dan laktasi )
-ibu mengatakan sudah mengetahui tentang kehamilan, persalinan,dan laktasi

13.  Lingkungan yang berpengaruh ( sekitar rumah dan hewan peliharaan)
-ibu mengatakan dilingkungan rumah tidak memelihara hewan



14.  DATA OBYEKTIF
1.      Pemeriksaan umum
Keadaan umum     : baik
Kesadaran             : composmetis
Status emosional   : stabil
Tanda vital sign
Tekanan darah       : 110/70 mMHg           Nadi    : 81x/ menit
Pernapasan            : 21x/ menit                 Suhu    : 36,5 C
Berat badan           : 51 kg                         Tinggi bdn:156 cm

2.      Pemeriksaan fisik
Kepala      : mesosepal, tidak ada benjolan
Rambut     : lurus, hitam, tidak rontok, ddan tidak ketombe
Muka        : oval, tidak pucat, tidak odem, tidak ada bekas luka
Mata         : simetris, tidak starbismus, konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada tanda-tanda infeksi
Hidung     : simetri, berlubang, tidak polip
Mulut        : lembab, tidak pecah-pecah, gusi tidak epulis, tidak ada stomatitis, gigi tidak karies
Telinga      : simetris, pendengaran baik, tidak ada secret, gendang telinga tidak pecah
Leher        : tidak ada pembesaran kelenjar parotis, tiroid, limfe dan vena jugularis
Dada         : simetris,tidak ada retraksi dinding dada,tidak ada wezing
Payudara : simetris, puting menonjol, hiperpigmentasi mamae, kolostrum sudah keluar
Abdomen : tidak ada bekas operasi, tidak ada linea alba, tidak ada  striegravidarum


Palpasi leopod
Leopod I       : teraba bulat, tidak melenting, lunak, berati letak letak di fundus bokong
Lepod II        : bagian kanan teraba kecil-kecil,tidak ada tahanan berati ekstremitas,  bagian kiri teraba memanjang seperti papan,ada tahanan berarti punggung
Leopod III    : bagian terendah janin teraba bulat, melenting, keras, tidak bisa digerakan berarti kepala
Leopod IV    :tanggan tidak biusabertemu berarti kepala belum masuk panggul
Osborn test                        : -
TFU menurut Mc.Donald : 33 cm           
TBJ            : (31-11)x155=3100gr
Auskultasi DJJ                  : 155x/ menit
Ekstremitas atas                : jumlah jari lengkap, kuku tidak pucat, tidak terdapat odem, gerakan aktif
Ekstremitas bawah            : jumlah jari lengkap, kuku tidak pucat, tidak odem, tidak varises, reflek patela positif
Genetalia luar                    : bersih, tidak ada pembesaran kelenjar bartolini, tidak varises,
Anus                                  : bersih, belubang, tidak hemoroid
Pemeriksaan panggul (bila perlu) : -

3.      Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laborat
HB : 8 gr/ dl
4.      Data penunjang
Tidak ada   
II.     INTEPRETASI DATA
A.    Diagnosa kebidanan
Seorang Ny Y umur 21 tahun G1P0Ab0  Uk 37+1 minggu, janin tunggal, hidup intrauteri, puki, preskep suspect solusio plasenta.

Ds :- ibu memgtakan ini kehamilan yang pertama
- ibu mengatakan baru berumur 21 tahun
- ibu mengatakan HPM  : 6-5-2012
Do : - KU              : baik
-Kesadaran      : composmetis
- vital sign       : TD     :11O/70 mMHg                       S          :36,5 C
                          N       :21x/ menit                  R :81x/menit
- TFU              :33 cm
-BB                 : 55kg
- DJJ                : 155x/ menit, ireguler tidak jelas
- Leopod I       : teraba bokong
- Leopod II     : teraba punggung disebelah kiri
 - Leopod III   : teraba kepala
- Leopod IV    : teraba kepala sudah masuk panggul

B.     Masalah
-gangguan rasa nyaman, nyeri

C.    Kebutuhan
Tidak ada

III.     IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
-          Potensial terjadinya fetal distres
-          Potensial terjadinya syok hipovolemik pada ibu

IV.     ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
-          Lakukan pemasangan infus
-          Lakukan rujukan ke dokter SPOG

V.     PERENCANAAN                                                  Pukul : 15.10 WIB
1.      Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan/kondisi ibu
2.      Ajarkan ibu untuk mengatasi rasa nyeri
3.      Anjurkan ibu untuk bedrest
4.      Beri KIE tentang tanda bahaya kehamilan
5.      Beri KIE nutrisi ibu hamil
6.      Pantau adanya tanda dan gejala syok hipovelemik
7.      Lakukan pemeriksaan DJJ secara periodik
8.      Lakukan rujukan
9.      Dokumentasi

VI.     PELAKSANAAN                                                  Pukul : 15. 15 WIB
1.      Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahawa ada tanda-tanda pelepasan plasenta yang menyebabkan rasa nyeri pada perut ibu dan akan menyebabkan kematian janin bila tidak segera dirujuk ke dokter SPOG.
2.      Mengajarkan pada ibu teknik relaksasi dengan cara tarik nafas dalam dari hidung kemudian dikeluarkan lewat mulut secara perlahan.
3.      Menganjurkan ibu untuk istirahat total ditempat tidur dan mengurangi aktifitas yang berat.
4.      Memberitahu ibu tentang tanda bahaya kehamilan yaitu janin tidak bergerak, keluarnya darah yang berwarna merah kecoklatan dari jalan lahir, keluarnya air ketuban sebelum waktunya dari jalan lahir, pusing yang hebat, demam yang tinggi
5.      Memberitahu ibu untuk makan,makanan yang bergizi yang mengadung protein misalnya tahu, tempe, telor dan ikan. Karbohidrat misalnya nasi, roti, jagung, singkong dan lain-lain. Vitamin misalnya buah-buahan dan sayuran. Mineral misalnya susu dan sayuran hijau-hijauan.
Memberitahu ibu agar tidak makan makanan yang mengganggu kesehatan misalnya bahan makanan yang banyak mengadung bahan pengawet, minum minuman berakohol, minum jamu dan merokok.
6.      Memantau adanya tanda syok hipovelemik dengan cara melalukan pemeriksaan tanda-tanda vital sign,KU.
7.      Melakukan pemeriksaan/pemantauan DJJ secara periodik setiap 15 menit sekali
8.      Melakukan rujukan ke dokter SPOG
9.      Melakukan dokumentasi

VII.     EVALUASI                                                                         Pukul : 15.45 WIB
1.      Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang keadaanya
2.      Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang teknik relaksasi dan ibu dapat menjelaskan kembali.
3.      Ibu bersedia untuk melakukan istirahat total ditempat tidur dan mengurangi aktivitas yang berat.
4.      Ibu mengatakan sudah mengetahuitanda bahaya kehamilan dan ibu sudah dapat menjelaskan kembali
5.      Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang nutrisi ibu hamil dan ibu dapat menjelaskan kembali
6.      Sudah dilakukan pemantuan pda ibu
7.      Sudah dilakukan pemantauan DJJ
8.      Sudah dilakukan rujukan ke dokter SPOG
9.      Sudah dilakukan dokumentasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar